Perjalanan menuju sembuh memang tidak mudah. Setelah dinyatakan kanker getah bening dan harus melakukan kemoterapi tak semudah dan selancar itu perjalanannya. Setelah 33x terapi radiasi sudah dilewati Bapak, terapi kemoterapi ternyata membutuhkan proses pemeriksaan yang panjang. Mulai pertengahan tahun 2017 akhirnya Bapakku bisa menjalankan proses kemoterapi untuk pertama kalinya. Proses kemoterapi Bapak ternyata membutuhkan waktu yang panjang sekitar 6 jam. Setiap berangkat pagi kami selalu pulang sore dan hanya tersisa sedikit pasien selalu. Bapak di programkan untuk menjalani 7x proses kemoterapi.
Ternyata proses kemoterapi ini sungguh sangat berat untuk Bapakku. Efek samping dari kemoterapi sungguh sangat terlihat menyiksa. Memang, 1 minggu pasca mendapatkan kemoterapi Bapak selalu merakan enteng, nyaman, tidur pulas dan minim rasa nyeri. Setelah minggu pertama terlewati barulah efeknya dating, Bapak mendapatkan sariawan yang super luas sehingga sangat sangat mengganggu saat makan. Bapak hamper membutuhkan waktu 2-3 jam untuk menyelesaikan makan 1 porsi. Selain sariawan, Bapak juga merasa badannya sangat lemas namun tak berlangsung lama 1 minggu sebelum kemoterapi biasanya sudah pulih lagi.
Jadwal Bapak untuk kemoterapi adalah setiap 21 hari sekali, sebelum kemoterapi harus melakukan cek laboratorium supaya memenuhi syarat untuk bisa dilakukan kemoterapi. Selama akan melakukan kemoterapi, Bapak seringkali memiliki Hb (Hemoglobin) yang cenderung turun sehingga perlu tranfusi darah beberapa kali dan leukosit Bapak juga cenderung turun sehingga perlu untuk menerima suntikan leukosit. Apabila Bapak sedang drop seperti itu, jadwal untuk kemoterapi menjadi mundur dari jadwalnya. Pernah sampai lebih dari 1 minggu jadwal Bapak mundur sampai memenuhi kondisi yang baik untuk dilakukan terapi.
Selama proses kemoterapi ini, beberapa kali kondisi Bapak drop sehingga harus mondok di rumah sakit beberapa kali. Mendapat donor darah tidak cukup 1 kantong. Terkadang tidak ada stok darah sehingga kami keluarga harus mencari darah di PMI tengah malam. Mungkin itu sedikit perjuangan kami keluarga saat membantu Bapak melawan kanker.
Ada momen dimana Bapk sungguh tergulai lemas tak berdaya sehingga harus beberapa hari dirumah sakit, dan ada juga saat dimana Bapak mengalami halusinasi yang sangat parah. Saat itu, aku tak bisa menemani Ibuku karena aku masih praktik akademik di Semarang. Halusinasi ini sungguh sangat parah dan mengganggu Bapak maupun Ibuku yang menjaga Bapak saat itu. Ibuku sampai tidak bisa tidur 3 hari karena Bapak akan berulah dengan halusinasinya jika sampai Ibu tertidur. Sempat Ibuku tertidur sebentar saking ngantuknya, namun Bapakku sudah jalan-jalan ke bangsal lain katanya mau cari “nasi goreng” padahal saat itu kondisi tengah malam dan bahkan Bapak tak bisa berjalan dengan normal. Pernah juga, Ibuku disuruh untuk mengusir tikus di rumah sakit padahal tidak ada. Beberapa hari dirawat dirumah sakit Alhamdulillah pulih juga.
Hal mengejutkan juga terjadi di tengah-tengah proses kemoterapi, wajah Bapak terserang herpes hamper diseparuh wajah yang membuat Bapak lagi-lagi harus masuk rumah sakit beberapa minggu. Sampai akhirnya pulih namun wajah Bapak menjadi sedikit perot seperti orang terkena stroke. Ternyata kanker Bapak sudah menyerang syaraf diwajah. Sejak saat inilah Bapak seringkali melihat ke cermin dan mulai mengatakan hal-hal yang pesimis untuk sembuh. Aku sungguh tak tega melihat Bapakku yang patah semangat seperti ini.
--continue to episode 3--
--continue to episode 3--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ramein kolom komentar yuks! :)