Jumat, 09 November 2018

Kanker dan Bapakku episode 1

Ceritaku tentang Bapak dengan kanker sinonasal atau nasofaring

Hari ini tepat hari Minggu 22 Januari 2017, besok pagi adalah jadwal terapi radiasi pertama kali untuk Bapakku. Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku sebagai anak tertua dari 2 adikku yang kelas 3 SMK dan 2 SD, sedangkan aku sedang dalam perjalanan menuju semester 6 di tahun ketigaku. Bapakku seorang pns daerah di sebuah RS di Klaten dan Ibuku seorang ibu rumah tangga.
Kanker hidung memang masih terdengar asing bagi sebagian besar warga Indonesia.
Ya, tapi itulah yang saat ini diderita oleh Bapak hampir satu bulan yang lalu sejak ditetapkan diagnosa tersebut. Siapa yang menyangka kalau Allah akan memberikan ujian ini kepada keluarga kami terutama Bapak.
Cerita bermula ketika Ibuku memergoki Bapak yang terlihat tidak sehat dan bertanya kenapa namun Bapak menjawab tak terjadi apa-apa. Bapak adalah orang yang tidak mau merepotkan orang lain, apabila sakit selalu ditahan sebisa mungkin dan tidak pernah bercerita kepada keluarga. Sampai akhirnya ketika Ibuku memaksa bercerita, Bapak mengatakan bahwa ingus yang keluar dari hidungnya bercampur darah dan hidung sebelah kanan mampet. Ibuku sungguh kaget karena tak pernah Bapak mengalami hal serupa. Kemudian Bapak setuju untuk memeriksakannya ke dokter keluarga. Sebelumnya Bapak sudah mengeluhkan pilek sejak 5 bulan terakhir yang tak kunjung sembuh namun tidak terlalu mengganggu.
Kemudian setelah dari dokter keluarga diberikan obat iritasi karena dokter menduga terjadi iritasi, setelah beberapa hari mengkonsumsi obat yang diberikan dokter tetap tak ada perbedaan. Bapak berobat kedua kali bermaksud untuk meminta rujukan supaya bisa periksa ke dokter tht, namun hasilnya tak diberikan rujukan dan hanya diberikan obat lagi. Sampai pada akhirnya Ibuku membujuk untuk dibawa ke dokter tht tanpa rujukanpun tak apa karena sudah sangat menggangu, tapi Bapak bersikukuh untuk menghabiskan obat yang diberikan dokter keluarga dahulu baru periksa.
Saat itu aku pulang kerumah dari Semarang, Ibuku membujuk Bapak lagi untuk periksa ditemani olehku dan Bapak setuju. Akhirnya kami pergi ke dokter tht. Sampai disana hidung Bapak dibersihkan dan di endoskopi dan terlihat sekali lubang hidung kanan Bapak tertutup oleh sesuatu yang dokter menduga adalah tumor. Dan Bapak dianjurkan untuk segera melakukan ct-scan untuk memastikan benjolan apa yang ada di hidung.
Membutuhkan waktu sekitar 5 hari sampai hasil ct scan keluar dan ternyata hasilnya dicurigai malignan (tumor ganas) karena benjolan yang ada di hidung Bapak sudah menyerang tulang menghancurkan tulang rawan di hidung namun belum menyebar kemana-kemana. Karena dokter yang menangani Bapak sedang pergi ke luar Jawa sekitar satu minggu jadi kami harus menunggu juga untuk mengetahui tindakan yang harus segera dilakukan. Selama menunggu waktu satu minggu tersebut, lubang hidung kanan Bapak benar-benar sudah tertutup dan Bapak merasakan nyeri yang hebat dan panas disekitar wajah.
Hari Rabu, 7 Desember 2016 akhirnya Bapak bertemu dengan dokternya dan diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi pada hari Kamis, 8 desember 2016 untuk memastikan apakah itu tumor jinak atau ganas. Operasi dilakukan dengan mengangkat seluruh benjolan di hidung Bapak bukan di biopsi karena emang benjolan tersebut sudah sangat mengganggu.
Butuh waktu lebih dari 2 minggu untuk mendapatkan hasilnya. Pada hari Sabtu, 24 Desember hasilnya akhirnya keluar dan benar Bapak dinyatakan menderita kanker hidung atau disebut Ca Sinonasal stadium 1. Dokter mengharuskan Bapak untuk menjalani terapi radiasi. Dan kamipun setuju dan mengusahakannya.
Perlu proses yang panjang dan cukup melelahkan sampai pada akhirnya kami mendapatkan jadwal simulator dan radiasi untuk pertama kalinya. Setiap melewati 1 minggu, keluhan yang dirasakan Bapak semakin bertambah. Satu minggu pertama setelah dinyatakan ca sinonasal, Bapak mengeluhkan langit-langit mulut sebelah kanan membengkak dan semakin lama semakin terganggu untuk menelan. Minggu kedua Bapak mengeluhkan mata sebelah kanannya seperti terdesak, semakin lama penglihatannya menjadi kabur. Beberapa minggu bertambah kondisi Bapak drop dengan muntah beberapa kali sampai akhirnya dibawa ke igd untuk dirawat. Selama 1 minggu dirawat inap, kelopak mata Bapak sebelah kanan sudah tidak bisa dibuka.
Hari pertama terapi radiasi di salah satu rumah sakit umum pusat di Indonesia. Alhamdulillah. Bapak sampai dirumah setelah terapi jam 5 sore, malam harinya untuk pertama kalinya merasakan tidur malam yang nyaman. Terapi radiasi ini dijadwalkan dokter dilakukan selama 28x mulanya kemudian ditambah menjadi 33x terapi dilakukan setiap hari Senin-Jumat. Selama proses terapi radiasi ini Bapak sungguh mengalami peningkatan yang cukup pesat. Mulai dari benjolan di langit-langit yang semakin lama semakin mengecil, hidung Bapak sudah tidak mampet lagi dan nyeri yang sudah sangat berkurang dari sebelumnya. Namun, mata sebelah kanan Bapak tak kunjung dapat melihat juga. Keluhan yang dirasakan Bapakku saat terapi radiasi ini adalah tenggorokan terasa kering dan sakit untuk menelan. Rambut Bapakku makin lama juga makin rontok karena yang diterapi adalah bagian wajah.
Dipertengahan proses terapi radiasi Bapak mengeluh nyeri hebat dikaki Bapak sebelah kanan tepatnya di atas pergelangan kaki. Jadi sedikit throwback sekitar 6 bulan lalu, Bapak itu sudah mengeluhkan sakit di kakinya ini terlebih dahulu ketimbang sakit di hidung, namun berkali-kali periksa ke dokter dokter mengatakan tak menemukan apapun jadi hanya diberi Pereda nyeri lalu hilang sakitnya kalau pas kambuh diberi obat lain lagi dan sembuh. Dipertengahan proses radiasi ini kaki kanan Bapak mulai kambuh lagi dan lebih parah dari sebelumnya dan bengkak tambah besar. Bengkak yang tak biasa.
Akhirnya, kami memutuskan untuk memeriksakan kaki Bapakku ini ke dokter spesialis tulang. Dokter melihat hasil rontgent terbaru dan 2 lainnya yang sudah lalu dilakukan Bapakku. Dokter curiga itu adalah kanker juga. Jadi dokter memberikan pengantar untuk dilakukan biopsy juga di bagian kaki itu. Daaaaannn Allah sang Maha Kuasa memberikan nikmat ini lagi kepada Bapakku yang ternyata benjolan kaki dan di hidung itu terhubung sehingga kanker Bapakku ini menjadi kanker kelenjar getah bening. Dokter merekomendasikan Bapakku untuk melakukan kemoterapi namun terapi radiasi harus diselesaikan terlebih dahulu.
--continue to episode 2--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramein kolom komentar yuks! :)